RAGAM BAHASA INDONESIA
A. Pengertian
Ragam Bahasa
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa
menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut
hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara
(Bachman, 1990). Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang
baik (mempunyai prestise tinggi), yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di
dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana
resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam
bahasa baku atau ragam bahasa resmi.
Menurut Dendy Sugono (1999 : 9), bahwa sehubungan
dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah
penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di
kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam
situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut
menggunakan bahasa baku.
Selain itu terdapat juga definisi -
definisi tentang ragam bahasa dari para ahli, berikut definisinya.
1. Pengertian ragam bahasa menurut Bachman
Menurut Bachman (1990), “ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara.”
2. Pengertian ragam bahasa menurut Dendy Sugono
Menurut Dendy Sugono (1999), “bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku.”
3. Pengertian ragam bahasa menurut Fishman ed
Menurut Fishman ed (1968), suatu ragam bahasa, terutama ragam bahasa jurnalistik dan hukum, tidak tertutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku agar dapat menjadi panutan bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Dalam pada itu perlu yang perlu diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku yang berkaitan dengan latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan), pelaku bicara, dan topik pembicaraan.
1. Pengertian ragam bahasa menurut Bachman
Menurut Bachman (1990), “ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara.”
2. Pengertian ragam bahasa menurut Dendy Sugono
Menurut Dendy Sugono (1999), “bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku.”
3. Pengertian ragam bahasa menurut Fishman ed
Menurut Fishman ed (1968), suatu ragam bahasa, terutama ragam bahasa jurnalistik dan hukum, tidak tertutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku agar dapat menjadi panutan bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Dalam pada itu perlu yang perlu diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku yang berkaitan dengan latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan), pelaku bicara, dan topik pembicaraan.
B. Macam-macam
ragam Bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi 3 jenis :
1. Berdasarkan Media
2. Berdasarkan Cara Pandang Penutur
3. Berdasarkan Topik Pembicaraan
1. Ragam Bahasa Indonesia
Berdasarkan Media
· Ragam Lisan
Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi
pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelepasan kalimat. Namun, hal itu
tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan
kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur di dalam
kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan
dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung
di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan.
Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda
tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal
atau santai.Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat
disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan, hanya saja
diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari
ciri-cirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan
dalam bentuk tulis,
ragam bahasa
serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis. Kedua ragam itu
masing-masing, ragam tulis dan ragam lisan memiliki ciri kebakuan yang berbeda.
Ciri-ciri
ragam lisan:
a. Memerlukan orang kedua/teman bicara.
b. Tergantung situasi,
kondisi, ruang & waktu.
c. Tidak harus memperhatikan unsur gramatikal, hanya perlu intonasi serta
bahasa tubuh.
d. Berlangsung cepat.
e. Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu.
f. Kesalahan dapat langsung dikoreksi.
g. Dapat dibantu dengan
gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi.
Kelebihan ragam bahasa lisan:
a. Dapat disesuaikan dengan situasi.
b. Faktor efisiensi.
c. Faktor kejelasan karena
pembicara menambahkan unsure lain berupa tekan dan gerak anggota badan agah
pendengar mengerti apa yang dikatakan seperti situasi, mimik dan gerak-gerak
pembicara.
d. Faktor kecepatan, pembicara
segera melihat reaksi pendengar terhadap apa yang dibicarakannya.
e. Lebih bebas bentuknya karena
faktor situasi yang memperjelas pengertian bahasa yang dituturkan oleh penutur.
f. Penggunaan bahasa lisan bisa
berdasarkan pengetahuan dan penafsiran dari informasi audit, visual dan
kognitif.
Kelemahan ragam bahasa lisan :
a. Bahasa lisan berisi beberapa
kalimat yang tidak lengkap, bahkan terdapat frase-frase sederhana.
b. Penutur sering mengulangi
beberapa kalimat.
c. Tidak semua orang bisa
melakukan bahasa lisan.
d. Aturan-aturan bahasa yang
dilakukan tidak formal.
· Ragam Tulis
Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis makna kalimat
yang diungkapkannya tidak ditunjang oleh situasi pemakaian, sedangkan ragam
bahasa baku lisan makna kalimat yang diungkapkannya ditunjang oleh situasi
pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalimat. Oleh
karena itu, dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis diperlukan kecermatan dan
ketepatan di dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk kata
dan struktur kalimat, serta kelengkapan unsur-unsur bahasa di dalam struktur
kalimat.
Ciri-ciri ragam tulis :
1. Tidak memerlukan orang kedua/teman
bicara.
2. Tidak tergantung kondisi,
situasi & ruang serta waktu.
3. Harus memperhatikan unsur
gramatikal.
4. Berlangsung lambat.
5. Selalu memakai alat bantu.
6. Kesalahan tidak dapat
langsung dikoreksi.
7.Tidak dapat dibantu dengan
gerak tubuh dan mimik muka, hanya terbantu dengan tanda baca.
Kelebihan ragam bahasa tulis :
a. Informasi yang disajikan
bisa dipilih untuk dikemas sebagai media atau materi yang menarik dan
menyenangkan.
b. Umumnya memiliki kedekatan
budaya dengan kehidupan masyarakat.
c. Sebagai sarana memperkaya
kosakata.
d. Dapat digunakan untuk
menyampaikan maksud, membeberkan informasi atau mengungkap unsur-unsur emosi
sehingga mampu mencanggihkan wawasan pembaca.
Kelemahan ragam bahasa tulis :
a. Alat atau sarana yang
memperjelas pengertian seperti bahasa lisan itu tidak ada akibatnya bahasa
tulisan harus disusun lebih sempurna.
b. Tidak mampu menyajikan
berita secara lugas, jernih dan jujur, jika harus mengikuti kaidah-kaidah
bahasa yang dianggap cenderung miskin daya pikat dan nilai jual.
c. Yang tidak ada dalam bahasa
tulisan tidak dapat diperjelas/ditolong, oleh karena itu dalam bahasa tulisan
diperlukan keseksamaan yang lebih besar.
Contoh ragam bahasa lisan dan ragam
bahasa tulis
|
No
|
Ragam
bahasa lisan
|
Ragam
bahasa tulis
|
|
1.
|
Papy
bilang saya harus segera pulang
|
Papy mengatakan bahwa saya harus
segera pulang
|
|
2.
|
Adik
lagi baca buku
|
Adik sedang baca buku
|
|
3.
|
Saya
tinggal di Bandung
|
Saya bertempat tinggal di Bandung
|
Ragam bahasa fungsional adalah ragam
bahasa yang dikaitkan dengan profesi ,lembaga, lingkungan kerja, atau kegiatan
tertentu lainnya.Ragam bahasa fungsional juga dikaitkan dengan keresmian
keadaan penggunaannya.
Ada tiga ragam bahasa fungsional ,
yaitu:
1.Ragam Bahasa Bisnis
Ragam
bahasa bisnis adalah ragam bahasa yang digunakan dalam berbisnis yang biasa
digunakan oleh para pebisnis dalam menjalankan bisnisnya.
Ciri –
cirri Ragam Bahasa Bisnis:
a.Menggunakan
bahasa yang komunikatif
b.Bahasanya
cenderung resmi
c.Terikat
ruang dan waktu
d.membutuhkan
adanya orang lain
2.Ragam Bahasa Hukum
Ragam
bahasa hokum adalah bahasa Indonesia yang corak penggunaan bahasanya khas dalam
dunia hokum , mengingat fungsinya mempunyai karakteristik tersendiri, oleh
Karena itu bahasa hukum Indonesia haruslah memnuhi syarat – syarat dan kaidah –
kaidah bahasa Indonesia.
Ciri –
cirri ragam bahasa hokum :
a.mempunyai
gaya bahasa yang khusus
b.Lugas
dan eksak, karena menghindari kesamaran dan ketaksaan
c.Objektif
dan menekan prasangka pribadi
d.Memberikan
defenisi yang cermat tentang nama, sifat, dan kategori yang diselidiki untuk
menghindari kesimpangsiuran.
e.Tidak
beremosi dan menjauhi tafsiran bersensasi
3.Ragam Bahasa Sastra
Ragam
bahasa sastra adalah ragam bahasa yang banyak menggunakan kalimat tidak
efektif.Penggambaran yang sejelas – jelasnya melalui rangkaian kata bermakna
konotasi sering dipakai dalam ragam bahasa sastra.
Ciri –
cirri ragam bahasa sastra:
a.Menggunakan
kalimat yang tidak efektif
b.Menggunakan
kata – kata yang tidak baku
c.Adanya
rangkaian kata yang bermakna konotasi
Pengertian Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar
Bahasa
Indonesia yang baik dan benar adalah Bahasa Indonesia yang digunakan sesuai
dengan situasi pembicaraan (yakni, sesuai dengan lawan bicara, tempat
pembiacaraan,dan ragam pembicaraan) dan sesuai dengan kaidah yang berlaku
dalam Bahasa Indonesia (seperti : sesuai
dengan kaidah ejaan, pungtuasi, istilah, dan tata bahasa)
Menurut
Anton M. Moeliono(dalam majalah Pembinaan Bahasa Indonesia,1980), berbahasa
Indonesia dengan baik dan benar dapat diartikan pemakaian ragam bahasa yang
serasi dengan sasarannya dan yang disamping itu mengikuti kaidah bahasa yagn
betul. Ungkapan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sebaliknya mengacu ke
ragam bahasa yang sekaligus memnuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran.
Ada 5
laras bahasa yang dapat digunakan sesuai situsi . Berturut – turut sesuai
derajat keformalannya,ragam tersebut dibagi sbb:
1.Ragam
beku(Frozen): digunakan pada situasi hikmat dan sangat sedikit memungkinkan
keleluasan seperti pada kitab suci, putusan pengadilan, dan upacara pernikahan.
2.Ragam
resmi(Formal) : digunakan dalam komunikasi resmi seperti pada pidato, rapat
resmi, dan jurnal ilmiah.
3.Ragam
konsultatif(consultative) : daigunakan dalam pembicaraan yang terpusat pada
transaksi atau pertukaran informasi seperti dalam percakapan di sekolah dan di
pasar.
4.Ragam
santai(casual): digunakan dalam suasana tidak resmi dan dapat digunakan oleh
orang yang belum tentu saling kenal dengan akrab.
5.Ragam
akrab(intimate): digiunakan diantara orang yang memiliki hubungan yang sanga
akrab dan intim.
Contoh
Bahasa Indonesi yang Baik dan Benar:
Misalkan
dalam pertanyaan sehari – hari dengan menggunakan bahasa yang baku
Contoh:
*Ketika
dalam dialog antara seorang Guru dengan seorang murid
Pak Guru : Rino apakah kamu sudah mengerjakan PR?
Rino : Sudah saya kerjakan Pak
Pak Guru : Baiklah kalu begitu, segera
dikumpulkan
Rino : Terima kasih Pak, akan segera
saya kumpulkan
Bahasa
yang baik dan benar itu memiliki 4 fungsi:
1.Fungsi
pemersatu kebhinnekaan rumpun dalam bahasa dengan mengatasi batas – batas
kedaerahan
2.Fungsi
penanda kepribadian yang menyatakan identitas bangsa dalam pergaulan dengan
bangsa lain
3.Fungsi
pembawa kewibawaan karena berpendidikan dan yang terpelajar
4.Fungsi
sebagai kerangka acuan tentang tepat tidaknya dan betul tidaknya pemakaian
bahasa
Ke-4
fungsi bahasa yang baik dan benar itu bertalian erat dengan tiga macam batin
penutur bahasa sbb:
1.Fungsinya
sebagai pemersatu dan sebagai penanda kepribadian bangsa membangkitkan
kesetiaan orang terhadap bahasa itu
2.Fungsinya
pembawa kewibawaan berkaitan dengan sikap kebangsaan orang karena mampu beragam
bahasa itu
3.Fungsi
sebagai kerangka acuan berhubungan dengan kesadaran orang akan adanya aturan
yang baku layak dipatuhi agar ia jangan terkena sanksi social
Berdasarkan
paparan diatas, maka dapat disimpulkan
berbahasa Indonesia dengan baik dan benar adalah menggunakan bahasa
Indonesia yang memenuhi norma baik dan benar bahasa Indonesia. Norma yang
dimaksud adalah “ketentuan bahasa Indonesia,misalnya tata bahasa, ejaan,
kalimat dsb.
2. Ragam Bahasa Indonesia Berdasarkan Penutur
a. Ragam bahasa berdasarkan daerah disebut ragam daerah
(logat/dialek)
Luasnya
pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia
yang digunakan oleh orang yang tinggal di Jakarta berbeda dengan
bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali, Jayapura, dan
Tapanuli. Masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda-beda.
b. Ragam bahasa berdasarkan pendidikan
penutur.
Bahasa
Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan berbeda
dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal
dari bahasa asing, misalnya fitnah, kompleks, vitamin, video, film,
fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan mungkin akan
mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm,
pakultas. Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa,
misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari.Selain
itu bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya
dipakai.
contoh:
1) Ira mau nulis surat seharusnya
Ira mau menulis surat
2) Saya akan ceritakan tentang
Kancil seharusnya Saya akan menceritakan tentang Kancil.
c. Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur
Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap
kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika dituliskan)
sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan bicara atau
pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap
tersebut.Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas
ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan
bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau
bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi
dan makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin
rendah tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang
digunakan.
Bahasa baku dipakai dalam :
- Pembicaraan di muka umum, misalnya pidato kenegaraan,
seminar, rapat dinas memberikan kuliah/pelajaran.
- Pembicaraan dengan orang yang dihormati, misalnya
dengan atasan, dengan guru/dosen, dengan pejabat.
- Komunikasi resmi, misalnya surat dinas, surat lamaran
pekerjaan, undang-undang.
- Wacana teknis, misalnya laporan penelitian, makalah,
tesis, disertasi.
Ragam Bahasa menurut Pokok Pesoalan
atau Bidang Pemakaian
Dalam kehidupan sehari-hari banyak pokok persoalan yang dibicarakan.Dalam
membicarakan pokok persoalan yang berbeda-beda ini kita pun menggunakan ragam
bahasa yang berbeda. Ragam bahasa yang digunakan dalam lingkungan agama berbeda
dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan kedokteran, hukum, atau pers.
Bahasa yang digunakan dalam lingkungan politik, berbeda dengan bahasa yang
digunakan dalam lingkungan ekonomi/perdagangan, olah raga, seni, atau
teknologi. Ragam bahasa yang digunakan menurut pokok persoalan atau bidang
pemakaian ini dikenal pula dengan istilah laras bahasa.
Perbedaan itu tampak dalam pilihan
atau penggunaan sejumlah kata/peristilahan/ungkapan yang khusus digunakan dalam
bidang tersebut, misalnya masjid, gereja, vihara adalah kata-kata yang
digunakan dalam bidang agama.Koroner, hipertensi, anemia, digunakan dalam
bidang kedokteran.Improvisasi, maestro, kontemporer banyak digunakan dalam
lingkungan seni.Kalimat yang digunakan pun berbeda sesuai dengan pokok
persoalan yang dikemukakan. Kalimat dalam undang-undang berbeda dengan
kalimat-kalimat dalam sastra, kalimat-kalimat dalam karya ilmiah,
kalimat-kalimat dalam koran atau majalah dan lain-lain.
Bahasa Baku
Bahasa baku ialah bahasa yang digunakan oleh masyarakat paling luas pengaruhnya dan paling besar wibawanya. Bahasa ini digunakan dalam situasi resmi, baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan.
Bahasa baku menjalankan empat fungsi, yaitu (1) fungsi pemersatu, (2) fungsi penanda kepribadian, (3) fungsi penambah wibawa, dan (4) fungsi sebagai kerangka acuan.
3. Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan topik pembicaraan
Berdasarkan topik pembicaraan, ragam bahasa terdiri
dari ragam bahasa ilmiah, ragam hukum, ragam bisnis, ragam agama, ragam sosial,
ragam kedokteran dan ragam sastra.
1. Ragam bahasa ilmiah
Ciri-ciri ragam
ilmiah:
a.
Bahasa
Indonesia ragam baku;
b.
Penggunaan
kalimat efektif;
c. Menghindari bentuk bahasa yang bermakna ganda;
d. Penggunaan kata dan istilah yang bermakna lugas dan menghindari
pemakaian kata dan istilah yang bermakna kias;
e. Menghindari penonjolan persona
dengan tujuan menjaga objektivitas isi tulisan;
f. Adanya keselarasan dan keruntutan antarproposisi dan antaralinea.
2. Ragam hukum
Contoh : Dia dihukum karena melakukan tindak pidana
3. Ragam bisnis
Contoh : Setiap pembelian di atas nilai tertentu akan
diberikan diskon
4. Ragam agama
5. Ragam psikologi
Contoh : Penderita autis perlu mendapatkan bimbingan
yang intensif.
6. Ragam kedokteran
Contoh : Anak itu menderita penyakit kuorsior.
7. Ragam sastra
Contoh : Cerita itu menggunakan unsur flashback.
Aturan Bahasa Indonesia
Bahasa jurnalistik harus
mengindahkan kaidah-kaidah tata bahasa.Ia harus mengikuti pokok aturan bahasa
Indonesia. Pokok aturan pertama: Yang penting atau yang dipentingkan
ditaruh di depan, yang kurang penting atau keterangan di belakang. Dengan
demikian kita menulis: “Buku ini bagus” bukan “Ini buku bagus”; “Malam nanti
kita menonton”, bukan “Nanti malam kita menonton”. Pokok aturan kedua:
Kata benda Indonesia tidak memunyai bentuk jamak (plurak; jumlah lebih dari
satu). Untuk menunjukkan jamak digunakan kata “banyak”, “beberapa”, “semua”,
“segala”, “setengah”, dan sebagainya atau disebut jumlahnya.
Penjamakan kata dapat juga dilakukan
dengan mengulang kata sifat yang di bekangnya, misalnya “kota bersih-bersih”,
“kuda bagus-bagus”.Terkadang dikatakan pula “kota-kota bersih”, “kuda-kuda
bagus”. Pokok aturan ketiga: Tidak ada benda untuk laki-laki atau
perempuan dalam bentuk kata benda.
Ejaan
Bahasa jurnalistik harus memperhatikan ejaan yang benar.Kedengarannya
mudah, tetapi dalam praktek bukan main banyak kesulitan.Wartawan semestinya
memiliki Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan untuk dikonsultasi
sewaktu diperlukan.
Pertumbuhan Kosa Kata
Kata-kata ialah alat para wartawan.Mereka tidak dapat bekerja jika tidak
memiliki jumla kata yang cukup.Untuk itu harus diperoleh suatu penguasaan, baik
kosa kata (vocabulary) dan ungkapan-ungkapan (phrase). Wartawan atau lebih
luas media massa memunyai peranan dalam menyiptakan kata-kata baru atau dalam
pertumbuhan kosa kata. Banyak kata yang dipopulerkan melalui surat kabar
seperti heboh, gengsi, anda, ganyang, ceria, sadis, dan sekian banyak kata baru
yang muncul akhir akhir ini.
Ekonomi Kata dan Kata Mubazir
Ekonomi kata (word economy) sangat diperlukan untuk membentuk bahasa
jurnalistik yang lebih efisien (hemat dan jelas). Kita tidak menulis “agar
supaya”, tetapi cukup satu perkataan saja, “agar” atau “supaya”.Kita selalu
berusaha menulis dengan kalimat pendek, tidak dengan kalimat majemuk.Kita juga
mesti menghilangkan ungkapan atau peribahasa. Berkaitan dengan efisiensi
pula, bahasa jurnalistik selalu membuang kata mubazir. Kata mubazir ialah
kata yang bila tidak dipakai tidak akan mengganggu kelancaran komunikasi. Kata
mubazir ialah kata yang sifatnya tarasa berlebih-lebihan. Kata mubazir ialah
kata yang bila dihilangkan dari sebuah kalimat malahan akan membantu
memperlancar jalan bahasa dan membuat kalimat itu lebih kuat
kesannya. Kata-kata yang digarisbawahi dalam kalimat-kalimat berikut ini
ialah kata mubazir yang lebih baik jika dihilangkan saja.
- Ismail menjelaskan bahwa pembinaan kesenian Pesawaran
sebenarnya cukup baik.
- Pernyataan dari/daripada pengajar Fakultas Ekonomi
Universitas Lampung itu adalah merupakan suatu pernyataan yang keliru.
- Ratusan pelajar telah menyerbu Kawasan Wisata Batu Putu
beberapa waktu lalu.
- Budi Anduk menyatakan bahwa ia akan siap untuk memikul
tanggung jawab sebagai Bupati Serungkuk.
- Unila sedang nampak sibuk menggelar berbagai
kegiatan-kegiatan Dies Natalis.
Kalimat-kalimat di atas akan lebih
baik jika dibuat:
- Ismail menjelaskan, pembinaan kesenian Pesawaran
sebenarnya cukup baik.
- Penyataan staf pengajar Fakultas Ekonomi Universitas
Lampung itu suatu kekeliruan.
- Ratusan pelajar menyerbu Kawasan Wisata Batu Putu
beberapa waktu lalu.
- Budi Anduk menyatakan siap memikul tanggung jawab
sebagai Bupati Serungkuk.
- Unila nampak sibuk menggelar berbagai kegiatan Dies
Natalis.
Dengan demikian, kita
telah berkenalan dengan beberapa kata mubazir seperti “adalah” (kata kopula),
“telah”, “sedang”, dan “akan” (pengaruh tenses dalam bahasa Inggris);
“untuk” (sebagai terjemahan todalam bahasa Inggris); “dari” dan “daripada”
(sebagai terjemahan of dalam hubungan milik); bahwa (sebagai kata
sambung); dan bentuk jamak yang tidak perlu diulang.
Kesalahan - Kesalahan Bahasa
- Kerancuan (Kontaminasi)
Kontaminasi ialah pencampuran dengan
tidak sengaja.Pencampuran ini sudah tentu tidak dapat dibenarkan karena membuat
kalimat menjadi kacau (rancu). Contoh:
1. “untuk sementara waktu” mestinya “untuk sementara” atau “untuk beberapa waktu” (sementara = sedang, untuk beberapa waktu);
2. “sementara orang” mestinya “beberapa orang”
3. “selain daripada itu” mestinya “selain itu” atau “lain daripada itu”;
4. “dan lain sebagainya” mestinya “dan lain-lain” atau “dan sebagainya”;
5. “berhubung karena” mestinya “berhubung dengan” atau “karena”;
6. “demi untuk” mestinya “demi” saja atau “untuk” saja;
7. “agar supaya” mestinya “agar” saja atau “supaya” saja;
8. “Menurut Ketua Panitia Bulan Bahasa SMPN 2 Negerikaton Sakwan mengatakan, peserta setiap cabang lomba tahun ini membludak.”
mestinya :
“Menurut Ketua Panitia Bulan Bahasa SMPN 2 Negerikaton Sakwan, peserta setiap cabang lomba tahun ini membludak.”
atau
“Ketua Panitia Bulan Bahasa SMPN 1 Negerikaton Sakwan mengatakan, peserta setiap cabang lomba tahun ini membludak.”
Kata ‘di mana’, ‘hal mana’, ‘yang mana’
Baik dalam bahasa percakapan maupun dalam bahasa tulisan, banyak kita jumpai kalimat relatif yang dihubungkan dengan kata-kata:
di mana; yang mana; hal mana; di atas mana; dari mana; dengan siapa.
Dengan tidak disadari kita terpengaruh oleh struktur bahasa asing.Kata-kata tersebut ialah kata ganti penghubung. Dalam bahasa Belanda kata-kata tersebut ialah:
wat; welke; waarop; waarcan; met wie.
Contoh:
1. “untuk sementara waktu” mestinya “untuk sementara” atau “untuk beberapa waktu” (sementara = sedang, untuk beberapa waktu);
2. “sementara orang” mestinya “beberapa orang”
3. “selain daripada itu” mestinya “selain itu” atau “lain daripada itu”;
4. “dan lain sebagainya” mestinya “dan lain-lain” atau “dan sebagainya”;
5. “berhubung karena” mestinya “berhubung dengan” atau “karena”;
6. “demi untuk” mestinya “demi” saja atau “untuk” saja;
7. “agar supaya” mestinya “agar” saja atau “supaya” saja;
8. “Menurut Ketua Panitia Bulan Bahasa SMPN 2 Negerikaton Sakwan mengatakan, peserta setiap cabang lomba tahun ini membludak.”
mestinya :
“Menurut Ketua Panitia Bulan Bahasa SMPN 2 Negerikaton Sakwan, peserta setiap cabang lomba tahun ini membludak.”
atau
“Ketua Panitia Bulan Bahasa SMPN 1 Negerikaton Sakwan mengatakan, peserta setiap cabang lomba tahun ini membludak.”
Kata ‘di mana’, ‘hal mana’, ‘yang mana’
Baik dalam bahasa percakapan maupun dalam bahasa tulisan, banyak kita jumpai kalimat relatif yang dihubungkan dengan kata-kata:
di mana; yang mana; hal mana; di atas mana; dari mana; dengan siapa.
Dengan tidak disadari kita terpengaruh oleh struktur bahasa asing.Kata-kata tersebut ialah kata ganti penghubung. Dalam bahasa Belanda kata-kata tersebut ialah:
wat; welke; waarop; waarcan; met wie.
Contoh:
- Kantor di mana dia bekerja, tidak jauh dari rumahnya.
- Keadaan di Iran sangar gawat, yang mana mengancam tahta
Shah.
- Daerah dari mana beras didatangkan terletak jauh di
pedalaman.
- Orang dengan siapa dia akan berunding ternyata
bajingan.
- Penyakit ityu dianggap berasal (dan disebarkan) oleh
serdadu-serdadu Amerika (GI) di mana konsentrasi besar mereka di Vietnam.
Kalimat-kalimat di atas sebenarnya
tidak mengikuti kaidah tata bahasa Indonesia. Kalimat-kalimat itu sebaiknya
berbunyi:
- Kantor tempat dia bekerja tidak jauh dari rumahnya.
- Keadaan di Iran sangat gawat, dan mengancam tahta Shah.
- Daerah yang menghasilkan beras terletak jauh dari
pedalaman.
- Orang yang akan berunding dengan dia ternyata bajingan.
- Penyakit itu berasal (dan disebarkan) serdadu-serdadu
Amerika (GI). Konsentrasi besar mereka ada di Vietnam.
- Bentuk Aktif dan Pasif Disatukan
Disiplinkan pikiran supaya tidak
mencampur adukkan bentik pasif (di-) dengan bentuk aktif (me-) dalam satu
kalimat.
Contoh:
“Karang Taruna Negarasuka-suka Senin kemarin memulai rapat kerjanya selama tiga hari di Hotel Bahagia, dibuka oleh Bupati Serungkuk Rahman Seago-ago.”
Teras berita ini mesti dipecah dalam dua kalimat:
“Karang Taruna Negarasuka-suka Senin kemarin memulai rapat kerjanya selama tiga hari di Hotel Bahagia. Rapat kerja itu dibuka Bupati Serungkuk Rahman Seago-ago.”
Contoh:
“Karang Taruna Negarasuka-suka Senin kemarin memulai rapat kerjanya selama tiga hari di Hotel Bahagia, dibuka oleh Bupati Serungkuk Rahman Seago-ago.”
Teras berita ini mesti dipecah dalam dua kalimat:
“Karang Taruna Negarasuka-suka Senin kemarin memulai rapat kerjanya selama tiga hari di Hotel Bahagia. Rapat kerja itu dibuka Bupati Serungkuk Rahman Seago-ago.”
Kata Depan atau Awalan?
Sering terjadi wartawan melakukan kesalahan dalam penulisan kata “di” dan “ke”.Kesulitan ini biasanya terletak pada kapan harus menulis kedua kata itu serangkai dan kapan mesti menulis terpisah dengan kata yang di belakangnya.Untuk mengatasi kesulitan itu, kita harus dapat membedakan “di dan ke sebagai kata depan” dan “di- dan ke- sebagai awalan”. Jika ia berfungsi sebagai kata depan, maka penulisannya terpisah; tetapi jika berfungsi sebagai awalan, maka penulisannya serangkai dengan kata yang menyertainya.
Sering terjadi wartawan melakukan kesalahan dalam penulisan kata “di” dan “ke”.Kesulitan ini biasanya terletak pada kapan harus menulis kedua kata itu serangkai dan kapan mesti menulis terpisah dengan kata yang di belakangnya.Untuk mengatasi kesulitan itu, kita harus dapat membedakan “di dan ke sebagai kata depan” dan “di- dan ke- sebagai awalan”. Jika ia berfungsi sebagai kata depan, maka penulisannya terpisah; tetapi jika berfungsi sebagai awalan, maka penulisannya serangkai dengan kata yang menyertainya.
- Hiperkorek
Hiperkorek (bahasa
Inggris: hypercorrect) berarti “melampaui batas tepat atau benar sehinga
menjadi salah”.
Contoh:
1. “Dipakai tenaga akhli Amerika dengan memberikan gajih yang cukup tinggi.” Kata akhli harus ditulis ahli dan gajih menjadi gaji.
2. “Di lain fihak, perbedaan tingkat ekonomi yang menyolok itu, juga sering menimbulkan iri hati.” Kata fihak harus ditulis pihak.
Contoh:
1. “Dipakai tenaga akhli Amerika dengan memberikan gajih yang cukup tinggi.” Kata akhli harus ditulis ahli dan gajih menjadi gaji.
2. “Di lain fihak, perbedaan tingkat ekonomi yang menyolok itu, juga sering menimbulkan iri hati.” Kata fihak harus ditulis pihak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar