Welcome to My Blog

Rabu, 02 Oktober 2013

RELASI


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Dalam pembuatan makalah ini yang akan kami bahas relasi dalam graf dan matrik beserta jenis-jenis relasi. Seringkali relasi yang dinyatakan sebagai pasangan berurutan sulit untuk dilihat dan dibayangkan, terutama bagi bagi yang belum terbiasa dengan konsep relasi. Matriks adalaha dalah susunan skalar elemen-elemen dalam bentuk baris dan kolom. Relasi pada sebuah himpunan dapat direpresentasikan secara grafis dengan graf  berarah (directed graph atau digraph) graf berarah tidak didefinisikan untuk merepresentasikan relasi darisuatu himpunan ke himpunan lain. Tiap elemen himpunan dinyatakan dengan sebuah titik (disebut juga simpul atau  R, maka sebuah busur dibuat dari simpul aÎvertex).Jika (a, b)  kesimpul b. Simpul a disebut simpul asal (initial vertex) dan simpul b disebut simpul tujuan(terminal vertex). Pasangan terurut (a, a) dinyatakan dengan busur dari simpul a ke simpul a sendiri. Busur semacam itu disebut gelang atau kalang (loop). Didalam sebuah relasi memiliki beberapa jenisrelasi seperti contoh berikut. Relasi Invers, Relasi Refleksif, Relasi Simetrik, Relasi anti Simetrik,Relasi Transitif, Relasi Equivalen.
Turunan adalah salah satu cabang ilmu matematika yang digunakan untuk menyatakan hubungan kompleks antara satu variabel tak bebas dengan satu atau beberapa variabel bebas lainnya. Konsep turunan sebagai bagian utama dari kalkulus dipikirkan pada saat yang bersamaan oleh Newton dan Leibniz dari tahun 1665 sampai dengan tahun 1675 sebagai suatu alat untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam geometri dan mekanika. Sir Isaac Newton (1642 - 1727) , ahli matematika dan fisika bangsa Inggris dan Gottfried Wilhelm Leibniz (1646 - 1716), ahli matematika bangsa Jerman dikenal sebagai ilmuwan yang menemukan kembali kalkulus. Kalkulus memberikan bantuan tak ternilai pada perkembangan beberapa cabang ilmu pengetahuan lain. Dewasa ini kalkulus digunakan sebagai suatu alat bantu yang utama dalam menyelesaikan berbagai permasalahan ilmu pengetahuan dan teknologi.

1.2.  Rumusan Masalah
Apa saja Relasi,Pungsi,Limit, apliksi turunandan Pungsi Turunan yang ada dalam ilmu matematika,Kalkulus cabang ilmu lain atau dalam kehidupan sehari-hari?

1.3.  Tujuan
a.       Dapat mengetahui dan menjelaskan Relasi dan Fungsi
b.      Dapat mengetahui dan menjelaskan Limit
c.       Dapat mengetahui dan menjelaskan Fungsi Turunan
d.      Dapat mengetahui dan menjelaskan beberapa Aplikasi turunan.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 RELASI

A.        RELASI DAN SIFATNYA

1. Pengertian Relasi
Definisi 1 (Hasil Kali Kartesian)

Hasil kali kartesian antara himpunan A dan himpunan B, ditulis AxB adalah semua pasangan terurut (a, b) untuk a  A dan b  B.
Contoh 1
Jika A = {1, 2, 3} dan B = {a, b}, maka
AxB = {(1, a), (2, a), (3, a), (1, b), (2, b), (3, b)}
Banyaknya himpunan yang terlibat dalam operasi ini mempengaruhi nama operasinya, jika operasi tersebut hanya melibatkan dua himpunan, disebut operasi biner.

Definisi 2 (Relasi)
Relasi, dilambangkan dengan huruf besar R, adalah Subset dari hasil kali Cartesian (Cartesian product). Jika (x, y)  R, maka x berelasi dengan y.
{x  A| (x, y)  R untuk suatu y  B} disebut domain dari R. Sedangkan Range dari R= {y  B| (x, y)  R untuk suatu x  A}
Contoh 2
Pada contoh 1, kita dapat membuat relasi:
R1 = {(1, a), (1, b)}
R2 = {(1, a), (2, a), (3, a)}
R3 = {(1, b), (2, b), (1, a}
R4 = {(1, a), (2, a), (3, a), (1, b), (2, b), (3, b)}
R5 =
R6={(a, 1), (2, a)}

Himpunan pasangan terurut R1, R2, R3, R4, R5, merupakan subset dari AxB, dan membentuk suatu relasi, tetapi R6 bukan relasi dari AxB, karena (a, 1) AxB.
Sebuah pasangan terurut menjadi anggota relasi R1, ditulis: (1, a)  R1 atau 1 R1 a. Dan jika (2, a) bukan anggota relasi R1, ditulis:
(2,a)  R1 atau 2 R1 a.


Definisi 3 (Relasi biner atas satu himpunan A)

Relasi biner atas himpunan A adalah relasi biner dari A ke A.

Relasi yang demikian ini, seringkali muncul dalam kehidupan sehari-hari, di dalam kalkulus I, kita kenal relasi dari R ke R, dari bilangan riil ke bilangan riil.

Contoh 3

Masing-masing relasi berikut adalah relasi biner atas bilangan bulat (Z):
R1 = {(a, b)| a ≥ b, dan a, b  Z}
R2 = {(a, b)| a < b, dan a, b   Z}
R3 = {(a, b)| a=b atau a=-b, dan a, b  Z}
R4 = {(a, b)| a=b, dan a, b   Z}
R5 = {(a, b)| a = b+1, dan a, b  Z}
R6 = {(a, b)| a + b 3, dan a, b   Z}
R7 = {(a, b)| a|b, dan a, b   Z, dan b0}
Contoh 4

D={a, b, c}
(D)={ , {a}, {b}, {c}, {a, b}, {a, c}, {b,c}, {a, b, c}}

2. Operasi Relasi

Karena relasi merupakan himpunan, maka operasi pada himpunan
juga berlaku dalam relasi:
1. Operasi  (intersection)
2. Operasi  (union)
3. Operasi  (symmetric difference)
4. Operasi - (difference)
5. Operasi komplemen (komplemen relative terhadap Cartesian
product)

Contoh 5

Jika A = {1, 2, 5, 6}, R1 = {(1, 1), (2, 2), (5, 5), (6, 6), (2, 5)} dan
R2 = {(1, 1), (2, 2), (2, 5), (1, 2), (1, 6), (5, 6)}, maka:
R1  R2 = {(1, 1), (2, 2), (2, 5)}
R1  R2 = {(1, 1), (2, 2), (5, 5), (6, 6), (2, 5), (1, 2), (1, 6), (5,6)}
R1  R2 = {(5, 5), (6, 6), (1, 2), (1, 6), (5, 6)}
R1 - R2 = {(5, 5), (6, 6)}
(R1  R2)  = AxA – (R1  R2) = {(1, 5), (2, 1), (2, 6), (5, 1), (5, 2),
(6, 1), (6, 2), (6, 5)}.

Operasi komposisi, merupakan gabungan dari dua buah relasi yang harus memenuhi syarat tertentu, yaitu jika R1 relasi dari A ke A dan R2 relasi dari A ke A, maka relasi komposisi R1 dan R2, dinyatakan oleh R2°R1 berarti relasi R1 diteruskan oleh relasi R2. Syarat tersebut
adalah jika (a, b)  R1 dan (b, c)  R2, maka (a, c)  R2°R1.
Contoh 6

Dengan menggunakan contoh 5, didapat:
R2°R1 = {(1, 1), (1, 2), (1, 6), (2, 2), (2, 5), (5, 6), (2, 6)}
Yang diperoleh dengan cara:
Jika A = {1, 2, 5, 6}, R1 = {(1, 1), (2, 2), (5, 5), (6, 6), (2, 5)} dan
R2 = {(1, 1), (2, 2), (2, 5), (1, 2), (1, 6), (5, 6)}, maka:

R1
R2
R2◦R1
R1
R2
R2◦R1
(1,1)
(1,1)
(1,1)
(6,6)
(1,1)
-

(2,2)
-

(2,2)
-

(2,5)
-

(2,5)
-

(1,2)
(1,2)

(1,2)
-

(1,6)
(1,6)

(1,6)
-

(5,6)
-

(5,6)
-
(2,2)
(1,1)
-
(2,5)
(1,1)
-

(2,2)
(2,2)

(2,2)
-

(2,5)
(2,5)

(2,5)
-

(1,2)
-

(1,2)
-

(1,6)
-

(1,6)
-

(5,6)
-

(5,6)
(2,6)
(5,5)
(1,1)
-




(2,2)
-




(2,5)
-




(1,2)
-




(1,6)
-




(5,6)
(5,6)




Tentunya operasi komposisi ini tidak hanya berlaku pada relasi atas satu himpunan saja, melainkan dapat pula digunakan untuk relasi yang melibatkan dua himpunan. Jika S relasi dari himpunan A ke himpunan B, dan R relasi dari himpunan B ke himpunan C, maka R°S, komposisi S diteruskan ke R adalah jika (a,b) S, dan (b,c) R, maka (a, c)  R°S.

Contoh 7
Diberikan: A = {1, 2, 3}, B = {a, b}, C = {z, x, y}, S={(1, a),
(2,a), (2, b), (3, b)}, R = {(a, x), (a, y), (b, z)}. Tentukan R°S.
Untuk menjawab persoalan ini, perhatikan:
R°S = {(1, x), (1, y), (2, x), (2, y), (2, z), (3, z)}, yang didapat dari
tabel berikut:

S
R
R◦S
S
R
R◦S
(1,a)
(a,x)
(1,x)
(2,b)
(a,x)
-

(a,y)
(1,y)

(a,y)
-

(b,z)
-

(b,z)
(2,z)
(2,a)
(a,x)
(2,x)
(3,b)
(a,x)
-

(a,y)
(2,y)

(a,y)
-

(b,z)
-

(b,z)
(3,z)


3. Sifat Relasi

Sifat relasi:
1. Reflexive: a  A, maka (a, a) R
2. Symmetry:  a, b  A, jika (a, b)  R à (b, a) R
3. Antisymmetry:  a, b  A, jika (a, b)  R  a b à (b, a)  R
{ini setara dengan (a,b)  R  (b,a)  R à a=b}
4. Transitivity:  a, b, c  A, jika (a, b)  R  (b, c)  R à (a, c) R

Contoh 9:
Jika A = {1, 2, 3, 4}, berikut diberikan relasi atas A:
R1 = {(1, 1), (1, 2), (2, 1), (2, 2), (3, 4), (4, 1), (4, 4)}
R2 = {(1, 1), (1, 2), (2, 1)}
R3 = {(1, 1), (1, 2), (1, 4), (2, 1), (2,2), (3, 3), (4, 1), (4,4)}
R4 = {(2, 1), (3, 1), (3, 2), (4, 1), (4, 2), (4, 3)}
R5 = {(1, 1), (1, 2), (1, 3), (1, 4), (2, 2), (2, 3), (2, 4), (3, 3),
(3,4), (4, 4)}
R6 = {(3, 4)}
R7 = {(1, 1)}
R8 = {(1, 1), (1, 2), (3, 4), (4, 3)}

Manakah dari kedelapan relasi di atas yang masing-masing bersifat: refleksif, simetri, anti simetri, transitif, dan yang bukan simetri sekaligus bukan antisimetri.

Jawab:
Pada relasi-relasi di atas yang bersifat refleksif adalah: R3, dan R5. R1 tidak refleksif karena (3, 3) R1.
Relasi yang bersifat simetri: R2, R3, dan R7.
Relasi yang bersifat antisimetri: R4, R6, dan R7.
Relasi yang bersifat transitif: R5, R6, dan R7.
Untuk melihat R3 tidak bersifat transitif, dapat menggunakan tabel berikut:
(a,b)
(b,c)
(a,c)
Keterangan
(1,1)
(1,2)
(1,2)
Anggota R3
(1,2)
(2,2)
(1,2)
Anggota R3
(1,4)
(4,1)
(1,1)
Anggota R3
(2,1)
(1,4)
(2,4)
Bukan Anggota R3
(2,2)
(2,1)
(2,1)
Anggota R3

Untuk melihat R5 bersifat transitif, lihat tabel berikut:
R5 = {(1, 1), (1, 2), (1, 3), (1, 4), (2,2), (2,3), (2,4), (3, 3), (3, 4),
(4, 4)}
(a,b)
(b,c)
(a,c)
Keterangan
(1,1)
(1,2)
(1,2)
Anggota R5
(1,2)
(2,2)
(1,2)
Anggota R5
(1,3)
(3,3)
(1,3)
Anggota R5
(1,4)
(4,1)
(1,1)
Anggota R5
(2,2)
(2,4)
(2,4)
Bukan Anggota R3
(2,2)
(2,1)
(2,1)
Anggota R3
(2,4)



(3,3)



(3,4)



(4,4)





4. Relasi Ekivalen

Pengertian Relasi Ekivalen

Definisi 4 (Relasi Ekivalen)

Adalah relasi yang memenuhi sifat: refleksif, simetri, dan transitif

Contoh 15
R={(a, b)| a=b atau a=-b, a, b Z}
Pada relasi ini, jelas dipenuhi a=a, a Z, berarti (a, a)  R atau bersifat refleksif.
Untuk sifat simetri, terdapat dua kemungkinan:
- Jika a=b, berarti (a, b) R,  a, b Z maka b=a, berarti (b, a) R
- Jika a=-b, berarti (a, b) R,  a, b Z maka b=-a, berarti (b,a) R, Sehingga R bersifat simetri.
Untuk sifat transitif, mempunyai empat kemungkinan:
- Jika a=b, dan b=c, maka a=c, berarti (a, c) R,  a,b,c Z
- Jika a=b, dan b=-c, maka a=-c, berarti (a, c) R,  a,b,c Z
- Jika a=-b, dan b=c, maka a=-c, berarti (a, c) R,  a,b,c Z
- Jika a=-b, dan b=-c, maka a=c, berarti (a, c) R,  a,b,c Z
Sehingga R bersifat transitif.
Jadi, R relasi ekivalen.

Contoh 16
R= {(a, b)| a-b  Z, a, b R}
Jelas kita dapatkan a-a =0 Z, berarti (a, a) R, berarti R bersifat refleksif
Jika a-b Z, maka b-a = -(a-b) Z, berarti (b, a)  R, berarti R bersifat simetri
Jika a-b Z dan b-c Z, maka a-c=(a-b) + (b-c), berarti a-c  R, berarti R bersifat transitif.
Jadi, R relasi ekivalen.


2.2 FUNGSI

Dalam matematika dan banyak aplikasi lain fungsi memainkan peranan penting. Dalam bab ini akan membahas fungsi sebagai bentuk khusus dari relasi. Relasi akan dibahas secara lebih mendalam dalam Bab 7.

Misalkan A dan B adalah himpunan tak kosong. Fungsi dari A ke B,
dapat dipandang sebagai aturan atau cara memasangkan setiap elemen A dengan tepat satu elemen B. Himpunan A disebut daerah asal (domain) dari f, dan himpunan B dinamakan daerah kawan (codomain) dari f.
Kawan (image) dari a   A adalah b = f(a)   B, seperti diagram panah pada Gambar 6.1.
Daerah hasil (range) dari f, dinotasikan sebagai Ran(f), adalah himpunan semua elemen B yang menjadi kawan elemen A. Jadi, Ran(f)  B.
fungsi  dapat pula dipandang sebagai himpunan bagian A  B dan ditulis pasangan berurut (a,f(a)).
Contoh 6.1.
Misalkan A = {1, 2, 3} dan B = {a, b, c}, maka
f = {(1, a), (2, a), (3, c)} adalah fungsi, sedangkan
g = {(1, a), (1, b), (3, c)} bukan fungsi karena g(1) = {a, b} (tidak memasangkan elemen A tepat satu pada elemen B).

Perhatikan bahwa dalam contoh ini Ran(f) = {a, c}.
 
A.    Fungsi Kebalikan (Fungsi Invers).
Sebuah fungsi dikatakan dapat dibalik (invers) bila  juga merupakan fungsi.
Contoh 6.2. Fungsi f pada Contoh 6.1 tidak dapat dibalik karena .

B.     Komposisi Fungsi
Misalkan dan adalah fungsi, maka dapat ditunjukkan
bahwa komposisi dari f dan g, , adalah fungsi dari A ke C. Jika a A dan b = f(a)   B sedangkan c = g(b)   C, maka
( )(a) = g(f(a));
sehingga ( )(a) = g(f(a)) = g(b) = c. Gambar 6.3 menyajikan komposisi fungsi dalam bentuk diagram panah

Contoh 6.3. Misalkan  dengan f(x) = x + 1 dan g(y) = y2:
Tentukanlan dan .
Jawab:
( )(x) = g(f(x)) = g(x + 1) = (x + 1)2 = x2 + 2x + 1:
dan
( )(x) = f(g(x)) = f(x2) = x2 + 1:
Pada umumnya, .

2.3 LIMIT

Definisi limit: kita katakan bahwa limit f(x) ketika x mendekati titik p adalah L apabila untuk setiap bilangan ε > 0 apapun, terdapat bilangan δ > 0, sedemikian rupanya:
Kalkulus pada umumnya dikembangkan dengan memanipulasi sejumlah kuantitas yang sangat kecil. Objek ini, yang dapat diperlakukan sebagai angka, adalah sangat kecil. Sebuah bilangan dx yang kecilnya tak terhingga dapat lebih besar daripada 0, namun lebih kecil daripada bilangan apapun pada deret 1, ½, ⅓, ... dan bilangan real positif apapun. Setiap perkalian dengan kecil tak terhingga (infinitesimal) tetaplah kecil tak terhingga, dengan kata lain kecil tak terhingga tidak memenuhi properti Archimedes. Dari sudut pandang ini, kalkulus adalah sekumpulan teknik untuk memanipulasi kecil tak terhingga.
Pada abad ke-19, konsep kecil tak terhingga ini ditinggalkan karena tidak cukup cermat, sebaliknya ia digantikan oleh konsep limit. Limit menjelaskan nilai suatu fungsi pada nilai input tertentu dengan hasil dari nilai input terdekat. Dari sudut pandang ini, kalkulus adalah sekumpulan teknik memanipulasi limit-limit tertentu. Secara cermat, definisi limit suatu fungsi adalah:
Diberikan fungsi f(x) yang terdefinisikan pada interval di sekitar p, terkecuali mungkin pada p itu sendiri. Kita mengatakan bahwa limit f(x) ketika x mendekati p adalah L, dan menuliskan:
jika, untuk setiap bilangan ε > 0, terdapat bilangan δ > 0 yang berkoresponden dengannya sedemikian rupanya untuk setiap x:

A.     Turunan


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Turunan

Grafik fungsi turunan.
Turunan dari suatu fungsi mewakili perubahan yang sangat kecil dari fungsi tersebut terhadap variabelnya. Proses menemukan turunan dari suatu fungsi disebut sebagai pendiferensialan ataupun diferensiasi.
Secara matematis, turunan fungsi ƒ(x) terhadap variabel x adalah ƒ′ yang nilainya pada titik x adalah:
,
Dengan syarat limit tersebut eksis. Jika ƒ′ eksis pada titik x tertentu, kita katakan bahwa ƒ terdiferensialkan (memiliki turunan) pada x, dan jika ƒ′ eksis di setiap titik pada domain ƒ, kita sebut ƒ terdiferensialkan.
Apabila z = x + h, h = z - x, dan h mendekati 0 jika dan hanya jika z mendekati x, maka definisi turunan di atas dapat pula kita tulis sebagai :
Garis singgung pada (x, f(x)). Turunan f'(x) sebuah kurva pada sebuah titik adalah kemiringan dari garis singgung yang menyinggung kurva pada titik tersebut.
Perhatikan bahwa ekspresi pada definisi turunan di atas merupakan gradien dari garis sekan yang melewati titik (x,ƒ(x)) dan (x+h,ƒ(x)) pada kurva ƒ(x). Apabila kita mengambil limit h mendekati 0, maka kita akan mendapatkan kemiringan dari garis singgung yang menyinggung kurva ƒ(x) pada titik x. Hal ini berarti pula garis singgung suatu kurva merupakan limit dari garis sekan, demikian pulanya turunan dari suatu fungsi ƒ(x) merupakan gradien dari fungsi tersebut.
Sebagai contoh, untuk menemukan gradien dari fungsi pada titik (3,9):
Ilmu yang mempelajari definisi, properti, dan aplikasi dari turunan atau kemiringan dari sebuah grafik disebut kalkulus diferensial

Garis singgung sebagai limit dari garis sekan. Turunan dari kurva f(x) di suatu titik adalah kemiringan dari garis singgung yang menyinggung kurva pada titik tersebut. Kemiringan ini ditentukan dengan memakai nilai limit dari kemiringan garis sekan.

a.      Notasi pendiferensialan

Terdapat berbagai macam notasi matematika yang dapat digunakan digunakan untuk menyatakan turunan, meliputi notasi Leibniz, notasi Lagrange, notasi Newton, dan notasi Euler.
b.      Notasi Leibniz
Diperkenalkan oleh Gottfried Leibniz dan merupakan salah satu notasi yang paling awal digunakan. Ia sering digunakan terutama ketika hubungan antar y = ƒ(x) dipandang sebagai hubungan fungsional antara variabel bebas dengan variabel terikat. Turunan dari fungsi tersebut terhadap x ditulis sebagai:
ataupun

c.       Notasi Lagrange
Diperkenalkan oleh Joseph Louis Lagrange dan merupakan notasi yang paling sering digunakan. Dalam notasi ini, turunan fungsi ƒ(x) ditulis sebagai ƒ′(x) ataupun hanya ƒ′.
d.      Notasi Newton
Juga disebut sebagai notasi titik, menempatkan titik di atas fungsi untuk menandakan turunan. Apabila y = ƒ(t), maka mewakili turunan y terhadap t. Notasi ini hampir secara eksklusif digunakan untuk melambangkan turunan terhadap waktu. Notasi ini sering terlihat dalam bidang fisika dan bidang matematika yang berhubungan dengan fisika.
e.       Notasi Euler
Menggunakan operator diferensial D yang diterapkan pada fungsi ƒ untuk memberikan turunan pertamanya Df. Apabila y = ƒ(x) adalah variabel terikat, maka sering kali x dilekatkan pada D untuk mengklarifikasikan keterbebasan variabel x. Notasi Euler kemudian ditulis sebagai:
atau .
Notasi Euler ini sering digunakan dalam menyelesaikan persamaan diferensial linear.

Notasi Leibniz
Notasi Lagrange
Notasi Newton
Notasi Euler
Turunan ƒ(x) terhadap x
ƒ′(x)

dengan y = ƒ(x)

B.     Integral

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Integral

Integral dapat dianggap sebagai perhitungan luas daerah di bawah kurva ƒ(x), antara dua titik a dan b.
Integral merupakan suatu objek matematika yang dapat diinterpretasikan sebagai luas wilayah ataupun generalisasi suatu wilayah. Proses menemukan integral suatu fungsi disebut sebagai pengintegralan ataupun integrasi. Integral dibagi menjadi dua, yaitu: integral tertentu dan integral tak tentu. Notasi matematika yang digunakan untuk menyatakan integral adalah , seperti huruf S yang memanjang (S singkatan dari "Sum" yang berarti penjumlahan).

C.     Integral tertentu

Diberikan suatu fungsi ƒ bervariabel real x dan interval antara [a, b] pada garis real, integral tertentu:
secara informal didefinisikan sebagai luas wilayah pada bidang xy yang dibatasi oleh kurva grafik ƒ, sumbu-x, dan garis vertikal x = a dan x = b.
Pada notasi integral di atas: a adalah batas bawah dan b adalah batas atas yang menentukan domain pengintegralan, ƒ adalah integran yang akan dievaluasi terhadap x pada interval [a,b], dan dx adalah variabel pengintegralan.

Seiring dengan semakin banyaknya subinterval dan semakin sempitnya lebar subinterval yang diambil, luas keseluruhan batangan akan semakin mendekati luas daerah di bawah kurva.
Terdapat berbagai jenis pendefinisian formal integral tertentu, namun yang paling umumnya digunakan adalah definisi integral Riemann. Integral Rieman didefinisikan sebagai limit dari penjumlahan Riemann. Misalkanlah kita hendak mencari luas daerah yang dibatasi oleh fungsi ƒ pada interval tertutup [a,b]. Dalam mencari luas daerah tersebut, interval [a,b] dapat kita bagi menjadi banyak subinterval yang lebarnya tidak perlu sama, dan kita memilih sejumlah n-1 titik {x1, x2, x3,..., xn - 1} antara a dengan b sehingga memenuhi hubungan:
Himpunan tersebut kita sebut sebagai partisi [a,b], yang membagi [a,b] menjadi sejumlah n subinterval . Lebar subinterval pertama [x0,x1] kita nyatakan sebagai Δx1, demikian pula lebar subinterval ke-i kita nyatakan sebagai Δxi = xi - xi - 1. Pada tiap-tiap subinterval inilah kita pilih suatu titik sembarang dan pada subinterval ke-i tersebut kita memilih titik sembarang ti. Maka pada tiap-tiap subinterval akan terdapat batangan persegi panjang yang lebarnya sebesar Δx dan tingginya berawal dari sumbu x sampai menyentuh titik (ti, ƒ(ti)) pada kurva. Apabila kita menghitung luas tiap-tiap batangan tersebut dengan mengalikan ƒ(ti)· Δxi dan menjumlahkan keseluruhan luas daerah batangan tersebut, kita akan dapatkan:
Penjumlahan Sp disebut sebagai penjumlahan Riemann untuk ƒ pada interval [a,b]. Perhatikan bahwa semakin kecil subinterval partisi yang kita ambil, hasil penjumlahan Riemann ini akan semakin mendekati nilai luas daerah yang kita inginkan. Apabila kita mengambil limit dari norma partisi mendekati nol, maka kita akan mendapatkan luas daerah tersebut.
Secara cermat, definisi integral tertentu sebagai limit dari penjumlahan Riemann adalah:
Diberikan ƒ(x) sebagai fungsi yang terdefinisikan pada interval tertutup [a,b]. Kita katakan bahwa bilangan I adalah integral tertentu ƒ di sepanjang [a,b] dan bahwa I adalah limit dari penjumlahan Riemann apabila kondisi berikut dipenuhi: Untuk setiap bilangan ε > 0 apapun terdapat sebuah bilangan δ > 0 yang berkorespondensi dengannya sedemikian rupanya untuk setiap partisi di sepanjang [a,b] dengan dan pilihan ti apapun pada [xk - 1, ti], kita dapatkan
Secara matematis dapat kita tuliskan:
Apabila tiap-tiap partisi mempunyai sejumlah n subinterval yang sama, maka lebar Δx = (b-a)/n, sehingga persamaan di atas dapat pula kita tulis sebagai:
Limit ini selalu diambil ketika norma partisi mendekati nol dan jumlah subinterval yang ada mendekati tak terhingga banyaknya.
Sebagai contohnya, apabila kita hendak menghitung integral tertentu , yakni mencari luas daerah A dibawah kurva y=x pada interval [0,b], b>0, maka perhitungan integral tertentu sebagai limit dari penjumlahan Riemannnya adalah
Pemilihan partisi ataupun titik ti secara sembarang akan menghasilkan nilai yang sama sepanjang norma partisi tersebut mendekati nol. Apabila kita memilih partisi P membagi-bagi interval [0,b] menjadi n subinterval yang berlebar sama Δx = (b - 0)/n = b/n dan titik t'i yang dipilih adalah titik akhir kiri setiap subinterval, partisi yang kita dapatkan adalah:
dan , sehingga:
Seiring dengan n mendekati tak terhingga dan norma partisi mendekati 0, maka didapatkan:
Dalam prakteknya, penerapan definisi integral tertentu dalam mencari nilai integral tertentu tersebut jarang sekali digunakan karena tidak praktis. Teorema dasar kalkulus (lihat bagian bawah) memberikan cara yang lebih praktis dalam mencari nilai integral tertentu.

D.     Integral tak tentu

Manakala integral tertentu adalah sebuah bilangan yang besarnya ditentukan dengan mengambil limit penjumlahan Riemann, yang diasosiasikan dengan partisi interval tertutup yang norma partisinya mendekati nol, teorema dasar kalkulus (lihat bagian bawah) menyatakan bahwa integral tertentu sebuah fungsi kontinu dapat dihitung dengan mudah apabila kita dapat mencari antiturunan/antiderivatif fungsi tersebut.
Apabila
Keseluruhan himpunan antiturunan/antiderivatif sebuah fungsi ƒ adalah integral tak tentu ataupun primitif dari ƒ terhadap x dan dituliskan secara matematis sebagai:
Ekspresi F(x) + C adalah antiderivatif umum ƒ dan C adalah konstanta sembarang.
Misalkan terdapat sebuah fungsi , maka integral tak tentu ataupun antiturunan dari fungsi tersebut adalah:
Perhatikan bahwa integral tertentu berbeda dengan integral tak tentu. Integral tertentu dalam bentuk adalah sebuah bilangan, manakala integral tak tentu : adalah sebuah fungsi yang memiliki tambahan konstanta sembarang C.
E.     LIMIT DI KETAKHINGGAAN, LIMIT TAK TERHINGGA :
Definisi-definisi Cermat Limit bila x→ ± ∞ .
Dalam analogi dengan definisi, kita untuk limit-limit biasa, kita membuat definisi berikut.
Definisi:
(Limit bila x → ∞). Andaikan f terdefinisi pada [c,∞) untuk suatu bilangan c. kita katakan bahwa Lim f(x) = L jika untuk masing-masing ε >0, terdapat bilangan M yang
x→∞
berpadanan sedemikian sehingga
X > M → │f(x) - L│ < ε
Definisi:
(Limit bila x → -∞). Andaikan f terdefinisi pada ( -∞, c] untuk suatu bilangan c. kita katakan bahwa Lim f(x) = L jika untuk masing-masing ε > 0, terdapat bilangan M yang
x→ -∞
berpadanan sedemikian sehingga
X < M → │f(x) – L│ < ε
Definisi:
(Limit-limit tak- terhingga). Kita katakan bahwa Lim f(x) = ∞ jika untuk tiap bilangan
x→c+
positif M, berpadanan suatu δ > 0 demikian sehingga    0 < x – c < δ → f(x) > M
a.       Hubungan Terhadap Asimtot
Garis x = c adalah asimtot vertikal dari grafik y = f(x). misalkan garis x = 1 adalah asimtot tegak. Sama halnya garis-garis x = 2 dan x = 3 adalah asimtot vertikal. Dalam nafas yang serupa, garis y = b adalah asimtot horisontal dari grafik y = f(x) jika,
Lim f(x) = b atau Lim f(x) = b
x→∞ x→ -∞
Contoh kasus penggunaan turunan  :
1.      Jika f(x) = ax3+bx2, tentukan a & b sedemikian sehingga grafik dari f akan mempunyai titik infleksi di ( 1,2 ).

 Penyelesaian     :

    F(x)    = ax3+bx2
    F’(x)  = 3ax2 + 2bx

    F”(x) = 6ax + 2b
Sehingga terdefini untuk setiap  x adalah bilangan riil, jadi titik infleksi terjadi hanya bila F’(x) = 2 dan F”(x) =0 dan titik infleksi (1,2), maka :
          F’(1)  = 2 => a + b = 2, karena f (x) ax3 + bx2 = a(1)3 + b(1)2  = 2
                          =a + b = 2
          F”(2) = 0 => 6a + 2b = 0, x dihilangkan sementara dan 6a + 2b = 0
                             3a + b = 0      dan kemudian sama – sama dibagi 2 sehingga
                                                    Dihasilkan 3a + b = 0 .
Eliminasi

          3a + b = 0
            a + b = 2    -
           2a      = -2
                 a  = -2
                        2
                    = -1

Cari nilai b
          3a + b = 0
                  b = 0 – (-3)
                  b = 3
sehingga nilai a = -1 dan nilai b = 3
jadi fungsi f(x) = -x3 + 3x2      

b.      Limit dan kecil tak terhingga


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Limit


2.4  FUNGSI TURUNAN

Misalnya, suatu fungsi  f (x) = x3+x2 -5. Turunan pertama f (x) adalah f I (x)= 3x2+4x. jika  f I(x)diturunkan lagi maka akan diperoleh f II(x) -6x +4. Untuk fungsi y – f (x), maka turunan pertama di tulis  dan turunan kedua ditulis sebagai .
Jadi, jika diketahui siatu pungsi y-f(x), maka:
a.     adalah turunan pertama dan dituliskan sebagai  yI= f I(x)
b.     adalah turunan kedua dan dituliskan sebagai yII=fII(x)
Contoh Soal:
a.       f(x)-5x4-2x2
penyelesaian :
a.       f I(x) =20x3-4x
b.      f II(x)=60x2-4


2.5 APLIKASI TURUNAN

A.    Maksimum dan Minimum
Misalkan kita mengetahui fungsi f dan domain (daerah asal) S seperti pada Gambar A. maka kita akan menentukan f memiliki nilai maksimum atau minimum pada S. Anggap saja bahwa nilai-nilai tersebut ada dan ingin mengetahui lebih lanjut dimana dalam S nilai-nilai itu berada. Pada akhirnya kita dapat menentukan nilai-nilai maksimum dan minimum.
Definisi :
Andaikan S, daerah asal f , memuat titik C, kita katakana bahwa:
                                i.            f(c) adalah nilai maksimum f pada S jika f(c)≥f(x) untuk semua x di S
                              ii.            f(c) adalah nilai minimum f pada S jika f(c)≤f(x) untuk semua x di S
                            iii.            f(c) adalah nilai ekstrim f pada S jika ia adalah nilai maksimum atau minimum

Teorema A

(Teorema Eksistensi Maks-Min). Jika f kontinu pada selang tertutup [a,b], maka f mencapai nilai maksimum dan nilai minimum.
Terjadinya Nilai-Nilai Ekstrim :
Biasanya fungsi yang ingin kita maksimumkan atau minimumkan akan mempunyai suatu selang I sebagai daerah asalnya. Tetapi selang ini boleh berupa sebarang dan sembilan tipe yang dibahas 1.3. beberapa dari selang ini memuat titk-titik ujung; beberapa tidak. Misalnya I = [a,b] memuat titik-titik ujung dua-duanya; (a,b) hanya memuat titik ujung kiri; (a,b) tidak memuat titk ujung satupun. Nilai-nilai ekstrim sebuah fungsi yan didefinisikan pada selang tertutup sering kali terjadi pada titik-titik ujung. (Lihat Gambar B)
Jika c sebuah titik pada mana f’(c) = 0 disebut c titik stasioner. Pada titik stasioner, grafik f mendatar karena garis singgung mendatar. Nilai-nilai ekstrim terjadi pada titik-titik stasioner. (Gambar C )
Jika c adalah titik dalam dari I dimana f’ tidak ada, disebut c titik singular. Grafik f mempunyai sudut tajam, garis singgung vertikal. Nilai-nilai ekstrim dapat terjadi pada titik-titik singular. (Gambar D) walaupun dalam masalah-masalah praktis sangat langka

Teorema B

(Teorema titik kritis). Andaikan f didefinisikan pada selang I yang memuat titik c. Jika f(c) adalah titik ekstrim, maka c haruslah suatu titik kritis, yakni c berupa salah satu :
        i.            titik ujung I
      ii.            titik stasioner dari f (f’(c) = 0)
    iii.            titik singular dari f (f’ (c) tidak ada)
Mengingat teorema A dan B, untuk menghitung nilai maksimum atau nilai minimum suatu fungsi kontinu f pada selang tertutup I .
Langkah 1 : Carilah titik-titik kritis dari f pada I
Langkah 2 : hitunglah f pada setiap titik kritis, yang terbesar adalah nilai maksimum dan yang terkecil adalah nilai minimum.
soal :
Carilah nilai- nilai maksimum dan minimum dari f(x) = x2 + 4x pada [-3, 1]
Penyelesaian:
Menurunkan fungsinya f’(x) = 2x + 4
Kemudian mencari titik kritis f’(x) = 0
2x + 4 = 0
X = -2
Berarti titik-titik kritis yang di dapat -3, -2, 1 maka :
f(-3) = -3
f(-2) = -4
f(1) = 5
Jadi nilai maksimum adalah 5 (dicapai pada 1) dan nilai minimum adalah -4 (dicapai pada -2)

B.     Kemonotonan dan Kecekungan

Definisi :
Andaikan f terdefinisi pada selang I (terbuka, tertutup atau tak satupun). Kita katakan bahwa :
                                i.            f adalah naik pada I jika untuk setiap pasang bilangan x1 dan x2 dalam I, x1 < x2 → f(x1) < f(x2)
                              ii.            f adalah turun pada I jika untuk setiap pasang bilangan x1 dan x2 dalam I, x1 > x2 → f(x1) > f(x2)
                            iii.            f monoton murni pada I jika ia naik pada I atau turun pada I
Teorema A
(Teorema Kemonotonan). Andaikan f kontinu pada selang I dan dapat dideferensialkan pada setiap titik dalam dari I
                                i.            Jika f’(x) > 0 untuk semua titik dalam x dari I, maka f naik pada I
                              ii.            Jika f’(x) < 0 untuk semua titik dalam x dari I, maka f turun pada I

Turunan Pertama dan Kemonotonan
Ingat kembali bahwa turunan pertama f’(x) memberi kita kemiringan dari garis singgung f dititik x, kemudian jika f’(x) > 0, garis singgung naik ke kanan, serupa, jika f’(x) < 0, garis singgung jatuh ke kanan. (Gambar A)

Turunan Kedua dan Kecekungan
Sebuah fungsi mungkin naik dan tetap mempunyai grafik yang sangat bergoyang (Gambar B), maka kita perlu mempelajari bagaimana garis singgung berliku saat kita bergerak sepanjang grafik dari kiri ke kanan. Jika secara tetap berlawanan arah putaran jarum jam, kita katakan bahwa grafik cekung ke atas, jika garis singgung berliku searah jarum jam, grafik cekung ke bawah
Definisi:
Andaikan f terdeferensial pada selang terbuka I = (a,b). jika f’ naik pada I, f (dan grafiknya) cekung ke atas disana; jika f’ turun pada I, f cekung ke bawah pada I.

Teorema B
(Teorema kecekungan). Andaikan f terdeferensial dua kali pada selang terbuka (a,b).
                                i.            Jika f’’(x) > 0 ntuk semua x dalam (a,b) maka f cekung ke atas pada (a,b)
                              ii.            Jika f’’(x) < 0 ntuk semua x dalam (a,b) maka f cekung ke bawah pada (a,b)
Titik Balik
Andaikan f kontinu di c, kita sebut (c,f(c)) suatu titik balik dari grafik f jika f cekung ke atas pada satu sisi dan cekung ke bawah pada sisi lainnya dari c. grafik dalam Gambar C menunjukkan sejumlah kemungkinan.
Gambar
soal :
Jika f(x) = x3 + 6x2 + 9x + 3 cari dimana f naik dan dimana turun?
Penyelesaian:
Mencari turunan f
f’(x) = 3x2 + 12x + 9
= 3 (x2 + 4x + 3)
= 3 (x+3)(X+1)
Kita perlu menentukan (x +3) (x +1) > 0 dan (x +3) (x + 1) < 0 terdapat titik pemisah -3 dan -1, membagi sumbu x atas tiga selang ( -∞, -3), (-3, -1) dan (-1, ∞). Dengan memakai titik uji -4, -2, 0 didapat f `(x) > 0 pada pertama dan akhir selang dan f `(x) < 0 pada selang tengah.
Jadi, f naik pada (-∞, -3] dan [-1, ∞) dan turun pada [-3, -1]
Grafik
f(-3) = 3
f(-1) = -1
f(0) = 3
C.    Maksimum dan Minimum Lokal

Definisi :
Andaikan S, daerah asal f, memuat titik c. kita katakan bahwa :
                                i.            f(c) nilai maksimum lokal f jika terdapat selang (a,b) yang memuat c sedemikian sehingga f(c) adalah nilai maksimum f pada (a,b) ∩ S
                              ii.            f(c) nilai minimum lokal f jika terdapat selang (a,b) yang memuat c sedemikian sehingga f(c) adalah nilai minimum f pada (a,b) ∩ S
                            iii.            f(c) nilai ekstrim lokal f jika ia berupa nilai maksimum lokal atau minimum lokal
Teorema titik kritis pada dasarnya berlaku sebagaimana dinyatakan dengan nilai ekstrim diganti oleh nilai ekstrim lokal, bukti pada dasarnya sama. Jika turunan adalah positif pada salah satu pihak dari titik kritis dan negative pada pihak lainnya, maka kita mempunyai ekstrim lokal.

GAMBAR MAKS.LOKAL DAN MINIM LOKAL
Teorema A
(Uji Turunan Pertama untuk Ekstrim Lokal). Andaikan f kontinu pada selang terbuka (a,b) yang memuat titik kritis c.
                                i.            Jika f’(x) > 0 untuk semua x dalam (a,c) dan f’(x) < 0 untuk semua x dalam (c,b), maka f(c) adalah nilai maksimum lokal f
                              ii.            Jika f’(x) < 0 untuk semua x dalam (a,c) dan f’(x) < 0 untuk semua x dalam (c,b), maka f(c) adalah nilai minimum lokal f
                            iii.            Jika f’(x) bertanda sama pada kedua pihak c, maka f(c) bukan nilai ekstrim lokal f.
Teorema B
(Uji Turunan Kedua untuk Ekstrim Lokal). Andaikan f’ dan f’’ ada pada setiap titik dalam selang terbuka (a,b) yang memuat c, dan andaikan f’(c) = 0

          i.            Jika f’’(c) < 0, f(c) adalah nilai maksimum lokal f
        ii.            Jika f’’(c) > 0, f(c) adalah nilai minimum lokal f

soal :

Cari nilai ekstrim lokal dari fungsi f(x) = x2 – 8x + 7 pada (-∞,∞)
penyelesaian:
fungsi polinom kontinu dimana-mana dan turunannya, f’(x) = 2x – 8, ada untuk semua x. jadi satu-satunya titik kritis untuk f adalah penyelesaian tunggal dari f’(x) = 0 yakni x = 4 karena f’(x) = 2(x-4) < 0 untuk x<0, f turun pada (-∞,4) dank arena 2(x – 4)>0 untuuk x>0, f naik pada [4,∞) karena itu, f(4) = -9 adalah nilai minimum lokal f, karena 4 adalah satu-satunya bilangan kritis, tidak terdapat nilai ekstrim lain. Ditunjukkan oleh grafik di bawah ini.

D.    Lebih Banyak Masalah Maks-Min

Masalah yang dipelajari dalam pasal 4.1, biasanya menganggap bahwa himpunan pada mana kita ingin memaksimumkan atau meminimumkan suatu fungsi berupa selang tertutup. Tetapi, selang-selang yang uncul dalam praktek tidak selalu tertutup; kadang-kadang terbuka atau bahkan setengah terbuka., setengah tetutup. Kita masih tetap menangani masalah ini jika ita menerapkan secara benar teori yang dikembangkan dalam pasal 4.3. Ingat dalam hati bahwa maksimum (minimum) tanpa kata sifat tambahan berarti maksimum (minimum) global.
Langkah-langkahnya:
1)      Buat sebuah gambar untuk masalah dan berikan variabel-variabel yang sesui untuk besaran-besaran kunci
2)      Tuliskan rumus untuk besaran Q yang harus dimaksimumkan (diminimumkan) dalam bentuk variabel-variabel tersebut
3)      Gunakan kondisi-kondisi masalah untuk menghilangkan semua kecuali satu dari variabel-variabel ini dan karenanya enyataka Q sebagai fungsi dari satu variabel, misalnya x
4)      Tentukan himpunan nilai-nilai x yang mungkin, biasanya sebuah selang
5)      Tentukan titik-titik kritis (titik ujung, titik stasioner, titik singular). Paling sering, titik-titik kritis kunci berupa titik-titik stasioner dimana dQ/dx = 0
6)      Gunakan teori bab ini untuk memutuskan titik kritis mana yang memberika maksimum atau minimum
soal :   
Cari (jika mungkin) nilai maksimum dan minimum dari f(x) = x3 – 3x2+4 pada ( -∞, ∞).
Penyelesaian :
f`(x) = 3x2 – 6x = x(3x – 6)
x=0 dan x= 2
f(2) = 0
f(0) = 4
fungsi memiliki nilai maksimum 4 (pada 0) dan nilai minimum 0 (pada 2)


E.     Penerapan Ekonomik


Dalam mempelajari banyak masalah ekonomi sebenarnya kita menggunakan konsep kalkulus. Misalkan dalam suatu perusahaan, PT ABC. Jika ABC menjual x satuan barang tahun ini, ABC akan mampu membebankan harga, p(x) untuk setiap satuan. Kita tunjukkan bahwa p tergantung pada x. pendapatan total yang diharapkan ABC diberikan oleh R(x) = x p(x), banyak satuan kali harga tiap satuan.
Untuk memproduksikan dan memasarkan x satuan, ABC akan mempunyai biaya total C(x). Ini biasanya jumlah dari biaya tetap ditambah biaya variable. Konsep dasar untuk sebuah perusahaan adalah total laba P(x), yakni slisih antara pendapatan dan biaya.
P(x) = R(x) – C(x) = x p(x) – C(x)
Umumnya, sebuah perusahaan berusaha memaksimumkan total labanya.
Pada dasarnya suatu produksi akan berupa satuan-satuan diskrit. Jadi R(x), C(x) dan P(x) pada umumnya didefinisikan hanya untuk x= 0,1,2,3,…..dan sebagai akibatnya, grafiknya akan terdiri dari titik-titik diskrit. Agar kita dapat mempergunakan kalkulus, titik-titik tersebut kita hubungkan satu sama lainsehingga membentuk kurva. Dengan demikian, R,C, dan P dapat dianggap ebagai fungsi yang dapat dideferensialkan.

Penggunaaan Kata Marjinal

Andaikan ABC mengetahui fungsi biayanya C(x) dan ntuk sementara direncanakan memproduksi 2000 satuan tahun in. ABC ingin menetapan biaya tambahan tiap satuan. Jika fungsi biaya adalah seperti pada gambar A, Direktur Utama ABC menanyakan nilai ∆C/∆X pada saat ∆x = 1. tetapi kita mengharapkan bahwa ini akan sangat dekat terhadap nilai Lim
Pada saat x = 2000. ini disebut biaya marjinal. Kita mengenalnya sebagai dc/dx, turunn C terhadap x. dengan demikian, kita definisikan harga marjinal sebagai dp/dx, pendapatan marjinal dR/dx, dan keuntungan marjinal sebagai dP/dx.

soal :

andaikan C(x) = 6700 + 4,15x + 30x1/2 rupiah. Cari biaya rata-rata tiap satuan dan biaya marjinal dan hitung mereka bilamana x = 4000
penyelesaian :
Biaya rata-rata : C(x)/x = (6700 + 4,15x + 30x 1/2) /x
Biaya marjinal : dC/dx = 4,15 + 30x -1/2
Pada X = 400 diperoleh
Biaya rata-rata = 22,4 x 400 = 8960
Biaya marjinal = 4,9 x 400 = 1960

Ini berarti bahwa rata-rata biaya tiap satuan adalah Rp. 8960 untuk memproduksi 400satuan yang pertama, untuk memproduksi satu satuan tambahan diatas 400 hanya memerlukan biaya Rp. 1960.



F.     Limit di Ketakhinggaan, Limit Tak Terhingga

Definisi-definisi Cermat Limit bila x→ ± ∞
Dalam analogi dengan definisi, kita untuk limit-limit biasa, kita membuet definii berikut.
Definisi:
(Limit bila x → ∞). Andaikan f terdefinisi pada [c,∞) untuk suatu bilangan c. kita katakan bahwa Lim f(x) = L jika untuk masing-masing ε >0, terdapat bilangan M yang
x→∞
berpadanan sedemikian sehingga
X > M → │f(x) - L│ < ε

Definisi:
(Limit bila x → -∞). Andaikan f terdefinisi pada ( -∞, c] untuk suatu bilangan c. kita katakan bahwa Lim f(x) = L jika untuk masing-masing ε >0, terdapat bilangan M yang
x→ -∞
berpadanan sedemikian sehingga
X < M → │f(x) – L│ < ε
Definisi:
(Limit-limit tak- terhingga). Kita katakan bahwa Lim f(x) = ∞ jika untuk tiap bilangan
x→c+
positif M, berpadanan suatu δ>0 demikian sehingga
0 < x – c < δ→ f(x) > M

Hubungan Terhadap Asimtot
Garis x = c adalah asimtot vertical dari grafik y = f(x). misalkan garis x = 1 adalah asimtot tegak. Sama halnya garis-garis x = 2 dan x = 3 adalah asimtot vertical. Dalam nafas yang serupa, garis y = b adalah asimtot horizontal dari grafik y = f(x) jika
Lim f(x) = b atau Lim f(x) = b
x→∞ x→ -∞
Garis y = 0 adalah asimtot horizontal.
soal :
. lim 3x2 - 2x + 6 / 6x2 – 5x -9
x→ ~
lim 3x2/x2 – 2x/x2 + 6/x2 / 6x2/x3 – 5x/x2 + 9/x2 = 3/6 = 1/2
x→ ~
G.    Penggambaran Grafik Canggih

Kalkulus menyediakan alat ampuh untuk menganalisis struktur grafik secara baik, khususnya dalam mengenali titik-titik tempat terjadinya perubahan cirri-ciri grafik. Kita dapat menempatka titik-titik maksimum lokal, titik-titik minimum lokal, dan titik-titik balik. Kita dapat menentukan secara persis dimana grafik naik atau dimana cekung ke atas.
a.      POLINOM.
Polinom derajat 1 atau 2 jelas untuk di gambar grafiknya, yang berderajat 50 hampir mustahil. Jika derajatnya cukup ukurannya, misalka 3 sampai 6. kita dapat memakai alat-alat dari kalkulus dengan manfaat besar.
b.      FUNGSI RASIONAL.
Fungsi rasional, merupakan hasil bagi dua fungsi polinom, lebih rumit untuk digrafikkan disbanding polinom. Khususnya kita dapat mengharapkan perilaku yang dramatis dimanapun penyebut nol.
c.       RINGKASAN METODE.
 Dalam menggambarkan grafik fungsi, tidak terdapat pengganti untuk akal sehat. Tetapi, dalam banyak hal prosedur berikut akan sangat membantu.

Langkah 1 :

Buat analisis pendahuluan sebagai berikut :
a. Periksa daerah asal dan daerah hasil fungsi untuk melihat apakah ada daerah di bidang yang dikecualikan.
b. Uji kesemetrian terhadap sumbu y dan titik asal. (apakah fungsi genap atau ganjil?)
c. Cari perpotongan dengan sumbu-sumbu koordinat.
d. Gunakan turunan pertama untuk mencari titik-titk kritis dan untuk mengetahui tempat-tempat grafik naik dan turun.
e. Uji titik-titik kritis untuk maksimum atau minimum lokal.
f. Gunakan turunan kedua untuk mengetahui tempat-tempat grafik cekung ke atas dan cekung ke bawah dan untuk melokasikan titik-titik balik.
g. Cari asimtot-asimtot.
Langkah 2 :
Gambarkan beberapa titik (termasuk semua titik kritis dan titik balik)
Langkah 3 :
Sketsakan grafik.
soal :
Sketsakan grafik f(x) = (2x5 – 30x3)/108
penyelesaian :
karena f(-x) = -f(x), f adalah fungsi ganjil, oleh karena itu grafiknya simetri terhadap titik asal. Dengan menetapkan f(x) = 0 berarti {2x5 – 30x3}/108 = 0 dan x3(2x2 – 30)/108 = 0
kita temukan perpotongan sumbu x adalah 0 dan  15  3,85 Kemudian kita deferensialkan f’(x) = (10x4 – 90x2)/108 = {10x2 (x2-9)}/108
kita peroleh titik kritis -3, 0, 3
f(-3) = 3
f(0) = 0
f(3) = 12
kemudian kita deferensialkan kembali f”(x) = (40x3 -180x)/108 = {x(40x2-180)}/108
kita peroleh x = -2.1 x = 2.1 x = 0
f(-2.1) = 1.8
f(2.1) = -1.8
f(0) = 0

H.    Teorema Nilai Rata-Rata

Teorema nilai rata-rata adalah bidang kalkulus – tidak begitu penting, tetapi sering kali membantu melahirkan teorema-teorema lain yang cukup berarti. Dalam bahasa geometri, teorema nilai rata-rata mudah dinyatakan dan dipahami. Teorema mengatakan bahwa jika grafik sebuah fungsi kontinu mempunyai garis singgung tak vertikal pada setiap titik antara A dan B, maka terdapat paling sedikit satu titik C pada grafik antara A dan B sehingga garis singgung di titik C sejajat talibusur AB. Dalam Gambar 1, hanya terdapat satu titik C yang demikian, dan dalam Gambar 2 terdapat beberapa.
GAMBAR 1 dan 2
Teorema A
(Teorema Nilai rata-rata untuk Turunan). Jika f kontinu pada selang tertutup [a,b] dan terdeferensial pada titik-titik dalam dari (a,b), maka terdapat paling sedikit satu bilangan c dalam (a,b) dimana
f(b) – f(a) / b – a = f’(c)
atau secara setara, dimana
f(b) – f(a) = f’(c) (b-a)
Teorema B
Jika F’(x) = G’(x) untuk semua –x dalam (a,b), maka terdapat konstanta C sedemikian sehingga F(x) = G(x) + C
Untuk semua x dalam (a,b)
soal:
Cari bilangan c yang dijamin oleh teorema Nilai rata-rata untuk f(x) = x2 – 3 pada [1,3]
penyelesaian :
f’(x) = 2x
dan {f(3) – f(1)}/ 3 – 1 = {6 – (-2)}/2 = 8/2 = 4
jadi kita harus menyelesaikan 2C = 4 maka C = 2
jawaban tunggal adalah C = 2

BAB III
PENUTUP
3.1KESIMPULAN
A.       Relasi pada sebuah himpunan dapat direpresentasikan secara grafis dengan graf berarah(directed graph atau digraph) graf berarah tidak didefinisikan untuk merepresentasikan relasi darisuatu himpunan ke himpunan lain.
B.       Tiap elemen himpunan dinyatakan dengan sebuah titik (disebut juga simpul atauvertex).Jika (a,  R, maka sebuah busur dibuat dari simpul a ke simpul b. Simpul aÎb)  disebutsimpul asal (initial vertex) Dan simpul b disebut simpul tujuan (terminal vertex).
C.       Matriks itu sendiri adalahsusunan skalar elemen-elemen dalam bentuk baris dan kolom.
D.       Maksimum dan Minimum
1.      Kemonotonan dan Kecekungan
2.      Maksimum dan Minimum Lokal
3.      Lebih Banyak Masalah Maks-Min
4.      Penerapan Ekonomik
5.      Limit di Ketakhinggaan, Limit Tak Terhingga
6..      Teorema Nilai Rata-Rata
7.      Penggambaran Grafik Canggih
Sedangkan apilkasi nya dalam berbagai bidang
1.      Dalam bidang tehnik
2.      Dalam bidang matematika
3.      Dalam bidang ekonomi
4.      Dalam bidang fisika

E.        Funsi Turunan

Daftar Pustaka
Purcell, Edwin J. 2003. Kalkulus jilid 1. Jakarta: Erlangga

Sari, Intan. 2009. Penggunaan turunan.
      http://nengintanmsari.wordpress.com/2009/03/15/penggunaan-turunan/ (diakses     tanggal 3 A 2013)

Setiawan. 2004. PDF Pengantar kalkulus. http://Depdiknas.yogyakarta.com/
            (diakses taggal 3 Januari 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar